splash
Welcome
The Official Site for the Author Clara Ng
Posted By Clara Ng on October 1st, 2006

Clara Ng adalah pengarang aktif yang telah menulis banyak sekali fiksi, untuk dewasa dan kanak-kanak. Perempuan berbintang Leo lahir di Jakarta tahun 1973. Senang menghibur lewat karya-karyanya. Menurutnya, menulis adalah satu-satunya cara yang brilyan agar dirinya tidak menjadi gila.

 

You Are Viewing Press Biography

Press Biography

Posted By Clara Ng on May 25th, 2007

Clara Ng adalah nama pena dari Clara R. Juana. Lahir pada tahun 1973 di Jakarta, anak pertama dari pasangan W. Atmadjuana dan S.A. Darjanus. Kesenangannya membaca fiksi dimulai sejak belajar membaca di usia tiga tahun.

Clara lulus dari SMA Bunda Hati Kudus di tahun 1992 dan melanjutkan pendidikannya ke Amerika, tepatnya di kota empat musim yang indah, Columbus, negara bagian Ohio. Dia memulai kuliahnya di universitas swasta Ohio Dominican College lalu diterima di salah satu universitas negeri terbaik di Amerika, Ohio State University jurusan Interpersonal And Organizational Communication. Lulus dengan gelar utama Bachelor of Arts dan minor di Linguistik. Sempat mengambil beberapa mata kuliah jurnalistik sebelum jatuh cinta dengan mata kuliah komunikasi dan linguistik.

Clara menghabiskan tujuh setengah tahun di Amerika sebelum memutuskan pulang kembali ke Indonesia di tahun 1999. Pekerjaan pertamanya di Indonesia adalah membangun departemen Human Resources di perusahaan shipping Korea, Hanjin Shipping.

Pada tahun 2000, penyakit kekentalan darah yang dideritanya membuatnya kehilangan bayinya yang pertama. Clara mengalami dua kali keguguran, yang pertama di usia tujuh bulan dan yang kedua tujuh minggu. Karena harus mengecek kesehatan medis setiap saat, dia harus mengundurkan diri dari perusahaan. Tidak bekerja setiap hari dan harus beristirahat total di rumah membuatnya memutuskan untuk mengolah imajinasinya ke dalam naskah pertamanya.

Saat Clara sedang berjuang menyelesaikan novelnya, dia bergabung secara pasif dengan komunitas Cyber Sastra yang mempertemukannya dengan teman-teman sesama penyair dan penulis. Secara indipenden, dia menerbitkan novel pertamanya pada tahun 2002, dengan judul Tujuh Musim Setahun. Novel itu mendapat sambutan yang baik sehingga harus mengalami beberapa kali cetak ulang. Setelah novel itu terbit, Clara melahirkan anak pertamanya, Elysa Ng, di tahun 2002.

Dua tahun vakum karena sibuk mengurus anak pertama, Clara Ng melakukan come back dengan menjadi pelopor genre Metropop yang diusung penerbit Gramedia Pustaka Utama pada pertengahan tahun 2004 dengan menerbitkan novel keduanya, Blues, yang merupakan buku pertama trilogi Indiana Chronicle.

Pada tahun 2005, Clara menulis secara stimultan dan cepat, langsung menerbitkan dua novel sekaligus pada awal tahun: Lipstick (buku kedua trilogi Indiana Chronicle) dan The (Un)Reality Show.  Dan pada bulan Juni di tahun yang sama, novel berjudul Bridesmaid, yang melengkapi trilogi Indiana Chronicle pun terbit.

Sebagai wujud kecintaannya pada anak-anak, istri dari Nicholas Ng, suami berwarganegara Malaysia, juga menulis dongeng cerita anak-anak. Seri pertama buku anak-anaknya berjudul Berbagi Cerita Berbagi Cinta, yang terdiri dari tujuh buku. Salah satu buku dalam seri ini, yang berjudul Gaya Rambut Pascal memperoleh penghargaan Adikarya Ikapi untuk cerita anak pada tahun 2006.

Di tahun 2006, Clara melahirkan anak keduanya, Catrina Ng. Dia tetap setia menulis semasa kehamilannya dan membuahkannya dengan dua novel, yaitu Dimsum Terakhir dan Utukki: Sayap Para Dewa. Pada tahun 2007, Clara kembali memperoleh penghargaan Adikarya Ikapi untuk salah satu buku anak-anak dari sembilan buku dalam seri Sejuta Warna Pelangi, berjudul Melukis Cinta. Dan pada tahun 2008, ia mengeluarkan seri terbaru yang terdiri atas lima buku, berjudul Bagai Bumi Berhenti Berputar.

Tahun 2007 merupakan tahun yang penting buat Clara. Selain menerbitkan novel Tiga Venus pada awal tahun 2007, novelnya yang berjudul Gerhana Kembar dipilih menjadi cerita bersambung di harian Kompas selama bulan Oktober 2007 sampai Februari 2008.

Clara yang kini jadi full time writer memiliki banyak cerita di kepalanya yang harus ditumpahkan segera. Beberapa cerpen dan esainya dimuat di media-media nasional, seperti Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, Femina. Dan pada bulan Agustus 2008, sejumlah cerpennya dikumpulkan dan dimuat dalam kumpulan cerita pendek berjudul Malaikat Jatuh dan Cerita-cerita Lainnya.

Membaca merupakan bagian proses menulis bagi Clara, sehingga tidak heran koleksi bukunya saat ini mencapai ribuan judul dan dipastikan akan terus bertambah setiap hari. Selain membaca, dia berusaha menyelipkan jadwal menonton bioskop di antara jadwalnya yang padat, dan ia tidak pernah bisa betah menonton TV.

Pada tahun 2009, sekali lagi naskah novelnya Tea for Two dipublikasikan secara bersambung di harian Kompas, sebelum diterbitkan secara utuh oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Awal tahun 2010, dia menerbitkan novel Jampi-jampi Varaiya, sebuah novel bersambung dari seri yang berjudul sama. Memulai tahun 2010 dengan akun @clara_ng di Twitter, bersama sastrawan Eka Kurniawan dan Agus Noor, mereka melahirkan komunitas membaca sastra dan menulis fiksi yang terkenal dan besar dengan nama Komunitas Fiksimini atau @fiksimini. Di tahun 2010, Jampi-jampi Varaiya mendapat nominasi long list Penghargaan Sastra Kathulistiwa Literarary Awards.

Tahun 2011, dua cerita pendeknya bergabung dalam antologi Si Murai dan Orang Gila (Dewan Kesenian Jakarta dan Penerbit Kompas) dan antologi Dari Datuk ke Sakura Emas. Novelnya berjudul Ramuan Drama Cinta terbit pada tanggal 1 Juli 2011, sebagai buku kedua dari seri Jampi-jampi Varaiya yang telah terbit tahun lalu. Kesibukannya semakin padat dengan menjadi pembimbing dan guru kelas kreatif/klinik menulis di kota-kota dan daerah-daerah Indonesia. Sebagian besar, waktu mengajarnya dicurahkan dengan serius di sekolah menulis Plot Point.

Di bulan November 2011, Clara menerbitkan buku dongeng anak berjudul Dongeng Sekolah Tebing. Sebuah buku anak indah bersampul tebal yang bercerita tentang 53 kisah anak-anak di sekolah yang terletak di ujung tebing. Bersama buku itu, Clara melakukan kampanye “melek sastra” dan “orangtua mendongeng” ke berbagai sekolah-sekolah di Indonsia.

Buat Clara, menjadi penulis adalah profesi yang soliter dan berat. Menulis adalah memasuki dunia di mana hanya ada dirinya dan tokoh-tokoh ciptaannya yang berlarian dalam kepalanya.  Sampai saat ini dia masih terus memelihara kegelisahan yang menjaga komitmennya untuk terus menulis. Segala kritik serta saran juga membuatnya belajar untuk rendah hati. Di antara semua itu Clara juga tak henti-hentinya bersyukur atas segala sokongan sahabat-sahabat yang mendukung komitmennya sebagai pekerja seni di dunia sastra Indonesia.

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes